Setiap kali ada yang belanja di Romelle, kami menanyakan satu hal sederhana: sebelum ketemu Romelle, apa yang paling bikin repot soal tas kerja? Jawabannya diketik sendiri oleh pembelinya, bebas, tanpa pilihan ganda.
Dari Desember 2025 sampai September 2026, survei ini diisi oleh 1.504 pembeli. Pertanyaan soal keluhan tas kerja dijawab 851 orang di antaranya. Kami baca satu per satu dan kelompokkan. Hasilnya menarik, karena keluhan yang paling sering muncul ternyata bukan soal harga atau kualitas bahan.
Lima keluhan yang paling sering muncul
Dari 851 jawaban:
- 19 persen menyebut laptop: tasnya nggak muat, atau mereka jadi harus membawa dua tas.
- 16 persen menyebut ukuran yang nggak pernah pas, kadang kekecilan, kadang kebesaran.
- 11 persen menyebut isi tas berantakan dan barang susah dicari.
- 8 persen menyebut tas yang fungsional tapi modelnya kurang enak dilihat.
- 2 persen menyebut berat tas atau tali yang bikin bahu nggak nyaman.
Sisanya, sekitar 43 persen, isinya beragam dan nggak masuk satu kelompok besar, termasuk jawaban yang bilang selama ini nggak ada masalah berarti.

1. Laptop adalah sumber masalah nomor satu
Hampir satu dari lima jawaban menyebut laptop. Bukan cuma soal muat atau nggak, tapi soal konsekuensinya: kalau tas utama nggak muat laptop, mereka membawa tas kedua.
"Bawa 2 tas, untuk laptop dan printilan."
"Tas kerja yang bisa masuk laptop tapi masih stylish untuk dibawa meeting."
Yang sering muncul juga kebalikannya: tas laptop yang muat, tapi bentuknya terlalu seperti tas kerja kantoran laki-laki. Satu jawaban merangkumnya dengan jelas: "Tas laptop ukurannya terlalu besar dan tidak mendukung tampilan formal."
2. Ukuran yang nggak pernah pas
Kelompok kedua terbesar bicara soal ukuran, dan menariknya keluhannya dua arah. Ada yang tasnya terlalu kecil sehingga barang kerja nggak masuk semua, ada juga yang terlalu besar sehingga isinya berpindah-pindah dan tas terlihat kempis.
"Ukurannya selalu nggak pas. Kadang kebesaran kadang kekecilan."
Ini yang membuat memilih tas kerja lebih sulit daripada memilih tas biasa: patokannya bukan selera, tapi isi bawaan harian.
3. Isi tas berantakan
Satu dari sepuluh jawaban menyebut hal yang sama: tasnya sebenarnya muat, tapi isinya menumpuk jadi satu.
"Nggak banyak slot terpisah jadi suka susah cari barang."
"Kompartemen di dalamnya kadang kurang baik, kurang terstruktur."
Keluhan ini jarang masuk daftar spesifikasi waktu orang belanja, padahal ini yang paling terasa setiap hari, terutama saat harus mengeluarkan kartu akses atau HP sambil berdiri.

4. Harus memilih antara fungsional dan enak dilihat
Delapan persen menyebut persoalan tampilan, dan hampir selalu dalam bentuk pilihan yang terasa nggak adil: tas yang muat semua kelihatan kaku, tas yang cantik nggak muat apa-apa.
"Tas kerja nggak ada pocket-nya. Kalau ketemu yang banyak pocket, modelnya jadul."
"Kekecilan, nggak banyak kompartemen, bentuknya kurang elegan."
5. Berat dan tali tas
Kelompok ini paling kecil, cuma 2 persen, tapi jawabannya paling spesifik. Yang disebut bukan berat tasnya sendiri, melainkan efek dari bawaan yang banyak, dan tali yang bikin bahu cepat capek.
"Tali strap yang melorot terus di bahu."
"Banyaknya bawaan membuat tas jadi menggembung dan membuat berat."
Yang akhirnya bikin mereka yakin membeli: desain
Di survei lain dengan 425 jawaban, kami tanya apa satu hal yang bikin yakin membeli. 45 persen menjawab desain dan tampilan. Kapasitas dan kemampuan membawa laptop disebut 9 persen, review dan rekomendasi 6 persen, sisanya menyebar ke material, harga, dan kompartemen.
Jadi ada jarak yang menarik di sini. Yang paling bikin repot sehari-hari adalah hal fungsional seperti laptop dan kompartemen, tapi yang mendorong keputusan beli tetap tampilannya. Dua-duanya harus ada. Tas yang fungsional saja nggak dibeli, tas yang cantik saja nggak dipakai lama.

Satu dari empat tas kerja dibeli sebagai kado
Dari 378 jawaban soal untuk siapa tasnya dibeli, 69 persen membeli untuk diri sendiri dan 24 persen membeli untuk pasangan. Sisanya untuk teman, kolega, atau orang tua.
Artinya cukup sering yang membaca spesifikasi tas bukan orang yang akan memakainya. Ini juga alasan kenapa ukuran laptop dan kebijakan tukar barang jadi informasi penting, bukan detail kecil.
Kalau kamu lagi cari tas kerja, ini yang bisa dipakai
Dari semua jawaban di atas, ada lima hal yang layak dicek sebelum membeli:
- Ukur laptopmu dalam sentimeter, termasuk case, lalu bandingkan dengan dimensi tas.
- Hitung barang harianmu dulu, baru tentukan ukuran tas, bukan sebaliknya.
- Cek pembagian ruang di dalamnya, bukan cuma kapasitas totalnya.
- Perhatikan lebar tali, karena ini yang menentukan nyaman atau nggaknya saat tas penuh.
- Pilih warna dan bentuk yang kamu nggak bosan lihat, karena tas kerja dipakai hampir setiap hari.
Pembahasan lebih detail soal cara memilihnya ada di artikel Cara Memilih Tas Kerja Wanita. Kalau kamu mau langsung melihat pilihannya, semua model ada di koleksi tas kerja wanita Romelle.
Catatan soal data ini
Data diambil dari survei setelah pembelian di website Romelle, Desember 2025 sampai September 2026, dengan total 1.504 pembeli yang mengisi. Isi pertanyaannya berubah beberapa kali selama periode itu, jadi tiap temuan punya jumlah jawaban sendiri: pertanyaan soal keluhan dijawab 851 orang, pertanyaan soal alasan membeli 425 orang, dan pertanyaan soal penerima tas 378 orang. Semua jawaban diketik bebas, lalu kami kelompokkan secara manual, jadi satu jawaban bisa menyentuh lebih dari satu tema dan kami masukkan ke tema yang paling menonjol. Kutipan ditampilkan apa adanya, hanya dirapikan ejaannya, tanpa nama.
Satu hal yang perlu kamu tahu: semua responden adalah orang yang membeli Romelle. Jadi data ini menggambarkan apa yang dirasakan pembeli kami, bukan seluruh perempuan pekerja di Indonesia. Kami tetap membagikannya karena keluhan seperti laptop yang nggak muat dan isi tas yang berantakan jarang dibahas dengan angka.
